Polinela, Selasa (27/10/2026). Sebanyak 29 institusi pendidikan tinggi berpartisipasi dalam Kompetisi Inovasi Teknologi Bidang Pertanian ke-8 atau 8th Agricultural Innovation Technology Competition (AITeC VIII) Tahun 2026 yang diselenggarakan di Politeknik Negeri Lampung (Polinela), 25–27 Oktober 2026.
Mengusung tema “Empowering Vocational Innovation for Smart and Sustainable Agriculture”, kegiatan ini menghadirkan 18 cabang kompetisi yang menguji inovasi, kreativitas, dan keterampilan terapan mahasiswa di bidang pertanian, peternakan, perikanan, serta teknologi pendukungnya.
Sebagai tuan rumah, Polinela memfasilitasi pelaksanaan kompetisi secara langsung di berbagai venue di lingkungan kampus, sehingga peserta dapat mengikuti perlombaan sesuai karakteristik cabang dan kebutuhan praktiknya.
Pelaksanaan lomba di lingkungan Polinela menghadirkan suasana kompetisi yang dinamis. Peserta tidak hanya ditantang menghasilkan gagasan inovatif, tetapi juga menunjukkan kemampuan teknis, ketelitian, kreativitas, dan penerapan prosedur kerja secara langsung.
Wakil Direktur Bidang Akademik Polinela, Didik Kuswadi, S.T.P., M.Si., menyampaikan bahwa kompetisi seperti AITeC VIII memiliki keterkaitan erat dengan penguatan kualitas pembelajaran di perguruan tinggi vokasi. Menurutnya, mahasiswa perlu memperoleh ruang untuk menerapkan pengetahuan akademik dalam bentuk keterampilan dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan sektor pertanian.
Sejalan dengan tema kegiatan, pengembangan pertanian cerdas dan berkelanjutan membutuhkan sumber daya manusia yang mampu memahami perkembangan teknologi sekaligus menerapkannya untuk menyelesaikan persoalan nyata. Kompetensi dalam bidang pertanian presisi, teknologi tepat guna, mekanisasi, dan pengolahan hasil merupakan bagian penting dalam mendukung peningkatan produktivitas dan efisiensi proses pertanian.
Beliau juga menekankan pentingnya keterhubungan antara proses pembelajaran dan kebutuhan dunia kerja. Melalui kompetisi antarmahasiswa dari berbagai institusi, peserta memperoleh kesempatan untuk menguji kemampuan, bertukar pengetahuan, serta mempelajari pendekatan yang dikembangkan oleh perguruan tinggi lain.
Menurutnya, pengalaman berkompetisi dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran yang memperkuat kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pengembangan inovasi. Dengan demikian, hasil yang diharapkan dari AITeC VIII tidak hanya berupa prestasi kompetitif, tetapi juga peningkatan kualitas kompetensi mahasiswa sebagai calon tenaga profesional yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.
Dari perspektif kemahasiswaan, Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan Polinela, Agung Adi Candra, S.Kh., M.Si., menekankan pentingnya kegiatan kompetisi sebagai sarana pengembangan potensi, karakter, dan daya saing mahasiswa.
Menurutnya, pendidikan tinggi tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik di ruang kelas, tetapi juga perlu memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas, membangun kepercayaan diri, meningkatkan kemampuan bekerja sama, dan menunjukkan prestasi melalui kegiatan yang sesuai dengan bidang keahlian mereka.
AITeC VIII memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berkompetisi secara sehat sekaligus memperluas jejaring dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi. Keberagaman cabang lomba memungkinkan mahasiswa menunjukkan keunggulan masing-masing, baik dalam pengembangan teknologi, keterampilan praktik, komunikasi, maupun kreativitas dan kewirausahaan.

Beliau juga menekankan bahwa pengalaman mengikuti kompetisi dapat membentuk mahasiswa yang lebih adaptif, disiplin, dan berorientasi pada pencapaian. Melalui kegiatan seperti AITeC VIII, mahasiswa diharapkan semakin termotivasi untuk mengembangkan kemampuan, menghasilkan karya inovatif, dan berkontribusi dalam menjawab tantangan masyarakat.
Penyelenggaraan kompetisi di lingkungan kampus Polinela turut menjadi kesempatan untuk mempererat hubungan antarmahasiswa dan antarlembaga pendidikan. Interaksi selama perlombaan diharapkan menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, memperluas wawasan, serta mendorong tumbuhnya budaya berprestasi di lingkungan pendidikan vokasi.

AITeC VIII 2026 diikuti oleh 29 institusi pendidikan tinggi, termasuk Polinela sebagai tuan rumah. Partisipasi internasional hadir melalui Jiangsu Agri Animal Husbandry Vocational College dari Provinsi Jiangsu, Tiongkok, dan Kyungpook National University dari Kota Daegu, Korea Selatan.
Selain kedua institusi tersebut dan Polinela, peserta lainnya meliputi Akademi Komunitas Negeri Rejang Lebong, Politeknik Kampar, Politeknik Manufaktur Bandung, Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung, Politeknik Negeri Bandung, Politeknik Negeri Banyuwangi, Politeknik Negeri Batam, Politeknik Negeri Cilacap, Politeknik Negeri Indramayu, Politeknik Negeri Jember, Politeknik Negeri Malang, Politeknik Negeri Nusa Utara, Politeknik Negeri Pontianak, Politeknik Negeri Sambas, Politeknik Negeri Sriwijaya, Politeknik Negeri Subang, Politeknik Pembangunan Pertanian Malang, Politeknik Pembangunan Pertanian Medan, Politeknik Perikanan Negeri Tual, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Politeknik Pertanian Negeri Kupang, Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan, Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, Universitas Sebelas Maret, dan Universitas Timor.
Keterlibatan institusi dari berbagai wilayah dan latar belakang keilmuan memperkaya ruang pertukaran pengetahuan dalam penyelenggaraan AITeC VIII. Kehadiran peserta internasional juga membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal perspektif yang lebih luas mengenai perkembangan teknologi, praktik pertanian, dan pendidikan vokasi.
AITeC VIII menghadirkan 18 cabang kompetisi yang mengakomodasi berbagai bidang keahlian. Pelaksanaannya secara langsung di venue yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing perlombaan memberikan kesempatan kepada peserta untuk menunjukkan kemampuan melalui praktik, demonstrasi, dan hasil karya.
Cabang kompetisi yang dilaksanakan meliputi:
- Inovasi Teknologi Bidang Pertanian – Smart and Precision Farming, berfokus pada pemanfaatan teknologi untuk mendukung pertanian cerdas dan presisi.
- Inovasi Teknologi Bidang Pertanian – Teknologi Tepat Guna, mendorong pengembangan solusi aplikatif sesuai kebutuhan lapangan.
- Agricultural Photography Competition, mengasah kreativitas visual dalam mendokumentasikan sektor pertanian.
- Agricultural Videography Competition, mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi dan inovasi pertanian melalui media audiovisual.
- Agritech Business and Teaching Factory Showcase Competition (ABTSC), menampilkan pengembangan usaha berbasis teknologi pertanian dan model pembelajaran teaching factory.
- Barista (Brew V60), menguji keterampilan penyeduhan kopi dan ketepatan proses.
- Desain Alat dan Mesin Pertanian dengan AutoCAD, menilai kemampuan desain teknis untuk mendukung mekanisasi pertanian.
- Formulasi Pakan Ikan, menguji kemampuan merancang formulasi pakan untuk mendukung budidaya perikanan.
- Formulasi Pakan Ternak, menitikberatkan pada keterampilan penyusunan formulasi pakan ternak.
- Packing Benih Ikan, menguji keterampilan penanganan dan pengemasan benih ikan.
- Penyuluhan Pertanian, mengasah kemampuan komunikasi dan penyampaian informasi pertanian.
- Sortasi Biji Kopi, menilai keterampilan memilah biji kopi berdasarkan kualitas.
- Survei Pemetaan Lahan, menguji kemampuan pengukuran dan pemetaan untuk mendukung pengelolaan lahan.
- Teknik Okulasi Tanaman, menilai keterampilan perbanyakan tanaman melalui teknik okulasi.
- Teknik Pembuatan Bakso Ikan, menguji keterampilan pengolahan hasil perikanan menjadi produk pangan.
- Teknik Pengambilan Sampel Darah Ayam, menekankan ketepatan prosedur dalam praktik bidang peternakan.
- Teknik Proses Fillet Ikan, menguji keterampilan penanganan dan pemotongan ikan.
- Teknik Proses Karkas Ayam, menitikberatkan pada keterampilan pengolahan karkas sesuai prosedur.
Ragam cabang kompetisi tersebut memperlihatkan bahwa inovasi pertanian tidak terbatas pada penggunaan teknologi digital. Pengembangan sektor pertanian juga membutuhkan keterampilan dalam mekanisasi, pengelolaan lahan, budidaya, formulasi pakan, penanganan hasil, pengolahan produk, hingga pengembangan usaha.
Cabang Smart and Precision Farming, teknologi tepat guna, dan desain alat serta mesin pertanian memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan dalam merancang solusi teknologi. Sementara itu, kompetisi fotografi, videografi, dan ABTSC menggabungkan kreativitas, komunikasi, dan orientasi kewirausahaan dalam memperkenalkan inovasi pertanian.
Di sisi lain, cabang formulasi pakan, sortasi biji kopi, teknik okulasi, serta pengolahan hasil peternakan dan perikanan menekankan pentingnya ketelitian, keterampilan praktik, dan penerapan prosedur kerja. Kompetensi tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung kualitas produksi dan pengembangan industri berbasis pertanian.
Bagi Polinela, penyelenggaraan AITeC VIII merupakan kesempatan untuk memperkuat peran perguruan tinggi vokasi sebagai ruang pengembangan kompetensi dan inovasi terapan. Keterlibatan mahasiswa dari berbagai institusi diharapkan dapat mendorong pertukaran pengalaman sekaligus memperluas jejaring kerja sama dalam pengembangan pendidikan, teknologi, dan inovasi pertanian.
Melalui AITeC VIII 2026, Polinela berharap mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman berkompetisi, tetapi juga semakin termotivasi untuk menghasilkan karya yang aplikatif, meningkatkan daya saing, dan berkontribusi terhadap pengembangan pertanian Indonesia.
Sejalan dengan tema “Empowering Vocational Innovation for Smart and Sustainable Agriculture”, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan vokasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, berorientasi pada kebutuhan dunia kerja, dan mendukung pertanian yang cerdas serta berkelanjutan.





