Polinela, Jum’at (14/08/2026). Komitmen Politeknik Negeri Lampung (Polinela) dalam mendorong inovasi dan kewirausahaan mahasiswa terus diwujudkan melalui berbagai karya aplikatif yang memanfaatkan potensi sumber daya lokal. Salah satunya melalui TIRUMIE, inovasi mie instan berbasis nano-kalsium tepung tulang ikan tenggiri (Scomberomorus commerson) dan Spirulina yang dikembangkan mahasiswa Jurusan Perikanan dan Kelautan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) yang didanai oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
TIRUMIE dikembangkan dengan mengintegrasikan inovasi pangan, pemanfaatan hasil samping perikanan, aspek gizi, serta kewirausahaan. Produk ini mengusung konsep zero waste dengan memanfaatkan tulang ikan tenggiri yang selama ini berpotensi menjadi hasil samping pengolahan ikan untuk diolah menjadi tepung sumber kalsium. Bahan tersebut kemudian dikombinasikan dengan Spirulina sebagai salah satu sumber protein dan komponen gizi lainnya.
Gagasan tersebut lahir dari kepedulian mahasiswa terhadap optimalisasi hasil samping perikanan sekaligus upaya menghadirkan produk pangan yang praktis dan memiliki nilai tambah. Ketua Tim PKM-K TIRUMIE, Syiva Dwi Haryanti, mengatakan bahwa tim ingin mengubah bahan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal menjadi produk pangan yang lebih bernilai dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami ingin mengubah tulang ikan tenggiri yang selama ini kurang dimanfaatkan menjadi sesuatu yang memiliki nilai tambah. Melalui TIRUMIE, kami mencoba menggabungkan sumber kalsium dari tulang ikan tenggiri dengan Spirulina ke dalam produk yang dekat dengan masyarakat, yaitu mie instan,” ujar Syiva.
Menurutnya, pengembangan TIRUMIE tidak hanya berorientasi pada produk kewirausahaan, tetapi juga menjadi proses pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama menempuh pendidikan vokasi.
“Kami berharap TIRUMIE tidak hanya menjadi produk PKM-K, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi pangan inovatif yang lezat, praktis, bergizi, dan tetap membawa konsep pemanfaatan hasil samping perikanan atau zero waste,” tambahnya.
Sebagai bagian dari proses pengembangan, TIRUMIE telah melalui pengujian kandungan gizi di UPA Laboratorium Terpadu Universitas Lampung. Berdasarkan hasil pengujian terhadap sampel mie kering, TIRUMIE memiliki kandungan karbohidrat sebesar 52,41 persen, protein 14,76 persen, lemak 0,837 persen, dan kalsium total 1,157 persen.
Berdasarkan hasil tersebut, setiap 60 gram mie kering diperkirakan mengandung sekitar 8,86 gram protein dan 694 mg kalsium. Hasil pengujian ini menunjukkan potensi TIRUMIE sebagai salah satu produk pangan yang dapat berkontribusi terhadap pemenuhan protein dan kalsium dalam pola makan bergizi seimbang.
Kandungan tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan TIRUMIE sebagai alternatif pangan yang dapat mendukung pemenuhan zat gizi penting bagi pertumbuhan dan perkembangan. Namun, TIRUMIE tetap diposisikan sebagai bagian dari pola makan bergizi seimbang, bukan sebagai satu-satunya sumber pemenuhan kebutuhan gizi maupun sebagai produk yang secara langsung mencegah atau menyembuhkan stunting.
Melalui inovasi ini, mahasiswa berupaya berkontribusi terhadap upaya mitigasi stunting dari sisi pengembangan pangan bergizi, sekaligus mendorong pemanfaatan hasil samping perikanan secara lebih optimal dan berkelanjutan.
Pengembangan TIRUMIE menjadi salah satu bentuk implementasi pendidikan vokasi yang menempatkan mahasiswa sebagai pelaku inovasi. Dalam prosesnya, mahasiswa terlibat secara langsung mulai dari formulasi tepung tulang ikan tenggiri dan Spirulina, pembuatan mie, proses pengeringan, pengembangan bumbu, pengemasan, hingga pengujian kandungan gizi.
Tim TIRUMIE terdiri atas Syiva Dwi Haryanti sebagai ketua, dengan anggota Krespo Kavindo, Kyesha Apriliani, dan Ridwan Saputra. Tim tersebut merupakan mahasiswa Jurusan Perikanan dan Kelautan Polinela di bawah bimbingan Fatimah Alhafizoh, S.Si., M.Si.
Syiva merupakan mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Pembenihan Ikan. Krespo Kavindo berasal dari Program Studi D3 Budidaya Perikanan, sedangkan Kyesha Apriliani dan Ridwan Saputra berasal dari Program Studi Teknologi Pembenihan Ikan.
Keterlibatan mahasiswa dalam seluruh tahapan pengembangan tersebut menjadi pengalaman penting dalam menerapkan kompetensi secara nyata. Mahasiswa tidak hanya dituntut menghasilkan gagasan, tetapi juga belajar melakukan formulasi produk, pengujian, pengemasan, hingga melihat potensi pengembangannya sebagai sebuah usaha.
Direktur Politeknik Negeri Lampung, Dr. Dwi Puji Hartono, S.Pi., M.Si., mengapresiasi kreativitas mahasiswa dalam mengembangkan potensi sumber daya perikanan menjadi produk inovatif bernilai tambah.
Menurutnya, TIRUMIE menjadi salah satu gambaran bagaimana pendidikan vokasi mendorong mahasiswa untuk tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi mampu mengimplementasikan kompetensi melalui inovasi yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Pengembangan TIRUMIE menjadi salah satu contoh bagaimana mahasiswa Polinela mampu melihat potensi yang ada di sekitar, mengolahnya dengan pendekatan teknologi, kemudian menghasilkan sebuah inovasi yang memiliki nilai ekonomi dan kebermanfaatan. Hal ini sejalan dengan semangat pendidikan vokasi yang menekankan keterampilan, kreativitas, inovasi, dan kemampuan menghasilkan solusi,” ujar Dr. Dwi Puji Hartono.
Ia berharap inovasi mahasiswa dapat terus dikembangkan dan tidak berhenti pada program atau kompetisi, tetapi memiliki peluang untuk ditingkatkan dari sisi kualitas produk, pengujian, pengemasan, hingga pengembangan model bisnis.
“Polinela terus mendorong mahasiswa untuk berani berinovasi dan menciptakan produk yang memiliki daya saing. Kami berharap TIRUMIE dapat menjadi salah satu langkah awal bagi mahasiswa untuk mengembangkan kewirausahaan berbasis inovasi dan potensi sumber daya lokal,” tambahnya.
Sementara itu, Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan Polinela, Agung Adi Candra, S.Kh., M.Si., menilai pengembangan TIRUMIE menunjukkan bahwa kegiatan kemahasiswaan dapat menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas sekaligus menerapkan kompetensi yang diperoleh selama proses pembelajaran.
“PKM menjadi salah satu wadah bagi mahasiswa untuk menuangkan gagasan, melakukan proses pengembangan, sekaligus belajar bagaimana sebuah inovasi dapat diarahkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah. TIRUMIE menunjukkan bahwa mahasiswa mampu mengangkat potensi hasil samping perikanan menjadi sebuah gagasan kewirausahaan yang inovatif,” ujar Agung.
Menurutnya, pengalaman mahasiswa dalam mengembangkan TIRUMIE juga menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan problem solving, teamwork, kreativitas, komunikasi, dan entrepreneurship.
“Kami berharap semakin banyak mahasiswa Polinela yang berani mengembangkan ide-ide kreatif melalui berbagai program kemahasiswaan. Bukan hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga menciptakan inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan memiliki peluang untuk dikembangkan secara berkelanjutan,” lanjutnya.
TIRUMIE menunjukkan bahwa hasil samping perikanan memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk pangan yang lebih bernilai melalui sentuhan teknologi dan kreativitas mahasiswa. Pemanfaatan tulang ikan tenggiri menjadi bagian dari pendekatan zero waste sekaligus membuka peluang pengembangan produk yang menghubungkan sektor perikanan, pangan, teknologi, dan kewirausahaan.
Bagi Polinela, inovasi tersebut sejalan dengan peran perguruan tinggi pendidikan vokasi dalam menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi teknis sekaligus mampu membaca peluang dan menciptakan solusi berbasis potensi lokal.
Melalui PKM-K TIRUMIE, mahasiswa tidak hanya belajar menghasilkan produk, tetapi juga mendapatkan pengalaman dalam mengembangkan gagasan menjadi inovasi yang memiliki potensi nilai ekonomi, nilai gizi, dan nilai keberlanjutan.
TIRUMIE pada akhirnya menjadi representasi semangat mahasiswa Polinela untuk menghadirkan inovasi yang menghubungkan kompetensi vokasi, pemanfaatan sumber daya perikanan, kewirausahaan, pangan, dan keberlanjutan. Dari hasil samping pengolahan ikan, mahasiswa mengembangkan sebuah produk pangan inovatif yang diharapkan dapat terus disempurnakan dan memiliki peluang untuk berkembang lebih luas.





