Polinela, Selasa (12/05/2026). Politeknik Negeri Lampung (Polinela) melalui Jurusan Peternakan melaksanakan Workshop Revitalisasi Perguruan Tinggi Tahun 2026 dengan tema Workshop Good Manufacturing Practice (GMP) dan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) sebagai Bentuk Integrasi Teaching Factory (TEFA) Unggas dengan Industri, sebagai bagian dari implementasi Program Revitalisasi Perguruan Tinggi Negeri Vokasi (PR-PTNV) Tahun Anggaran 2026.
Kegiatan ini merupakan langkah strategis dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan vokasi melalui penguatan kompetensi akademik, modernisasi tata kelola pembelajaran berbasis industri, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia yang adaptif terhadap kebutuhan dunia usaha dan dunia industri.
Workshop diawali dengan sambutan Ketua Jurusan Peternakan Polinela, Riko Noviadi, S.Pt., M.P. yang menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting bagi Jurusan Peternakan dalam memperkuat sinergi antara proses pembelajaran di Teaching Factory unggas dengan standar industri pangan modern.
“Workshop ini menjadi bagian dari upaya kami dalam menyelaraskan sistem pembelajaran berbasis Teaching Factory dengan standar mutu industri pangan nasional maupun global. Melalui pemahaman GMP dan HACCP, mahasiswa tidak hanya memiliki keterampilan teknis produksi, tetapi juga memahami sistem jaminan keamanan pangan yang menjadi kebutuhan utama industri saat ini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa revitalisasi pendidikan vokasi harus diwujudkan melalui transformasi nyata dalam proses pembelajaran yang berbasis praktik industri, sehingga lulusan Polinela mampu bersaing secara profesional dan siap kerja.
Kegiatan kemudian dibuka secara resmi oleh Direktur Politeknik Negeri Lampung yang dalam kesempatan ini diwakili Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan, Agung Adi Candra, S.Kh., M.Si.
Dalam sambutannya, Agung Adi Candra menegaskan bahwa Program Revitalisasi Perguruan Tinggi Negeri Vokasi (PR-PTNV) Tahun Anggaran 2026 merupakan inisiatif strategis dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam mendorong transformasi perguruan tinggi vokasi agar semakin relevan dengan kebutuhan industri.
“Program revitalisasi ini difokuskan pada modernisasi sarana prasarana, penguatan kompetensi dosen, pengembangan kurikulum berbasis kebutuhan industri, serta peningkatan tata kelola untuk mendukung pencapaian indikator kinerja utama perguruan tinggi. Melalui workshop ini, Polinela menunjukkan komitmennya untuk menghasilkan lulusan vokasi yang unggul, adaptif, inovatif, dan berdaya saing tinggi,” ungkapnya.
Ia juga berharap kegiatan ini dapat memperkuat kolaborasi antara institusi pendidikan vokasi dengan mitra industri sehingga implementasi Teaching Factory benar-benar menghadirkan suasana pembelajaran yang identik dengan dunia kerja nyata.
Pada sesi utama, peserta memperoleh materi dari Andyka Setio Aprianto, S.T. dari PT Sucofindo, yang membahas secara komprehensif implementasi Animal Welfare Traceability (AWT), Good Manufacturing Practice (GMP), dan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dalam sistem produksi pangan asal hewan.

Dalam pemaparannya, Andyka menjelaskan bahwa GMP merupakan fondasi dasar penerapan sistem keamanan pangan, sementara HACCP adalah sistem pengendalian bahaya yang lebih spesifik dan terstruktur. GMP belum tentu memenuhi HACCP, namun HACCP mensyaratkan penerapan GMP sebagai prasyarat utama.
Ia memaparkan bahwa pengendalian bahaya dalam HACCP dilakukan sejak tahap penerimaan bahan baku hingga produk ayam dibekukan, dengan identifikasi terhadap tiga kategori utama bahaya, yaitu:
- Bahaya kimia, seperti kontaminasi aflatoksin;
- Bahaya biologis, seperti cemaran bakteri Salmonella;
- Bahaya fisik, seperti serpihan kaca, rambut, logam, atau benda asing lainnya.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa food borne disease merupakan penyakit yang ditimbulkan akibat kontaminasi makanan yang dapat terjadi sepanjang rantai produksi, distribusi, hingga konsumsi. Sebagai upaya mitigasi, diperlukan penerapan sistem keamanan pangan yang ketat melalui sertifikasi pangan sebagai jaminan mutu, standar operasional terukur, audit berkala, peningkatan kredibilitas produk, serta pembentukan budaya mutu dalam operasional industri secara konsisten.
Andyka juga menekankan pentingnya Prerequisite Programs (PRP) yang bertujuan mencegah kontaminasi makanan, menjamin higienitas fasilitas, serta memastikan seluruh proses memenuhi standar food safety.
Dalam sesi teknis, peserta dibekali pemahaman mengenai penyusunan dokumen HACCP, meliputi:
- Pembentukan Tim HACCP yang sah melalui SK atau memo resmi;
- Penyusunan deskripsi produk secara rinci;
- Pembuatan diagram alir proses produksi;
- Identifikasi dan analisis potensi bahaya pada setiap tahapan;
- Penentuan signifikansi bahaya berdasarkan probabilitas dan tingkat keparahan dengan acuan literatur;
- Pengambilan keputusan melalui decision tree;
- Penyusunan mekanisme monitoring Critical Control Point (CCP).
Diskusi juga menyoroti urgensi implementasi prosedur tersebut dalam sistem Teaching Factory (TEFA) unggas di Polinela agar proses pembelajaran tidak hanya berorientasi produksi, tetapi juga sepenuhnya mengadopsi standar industri profesional.
Melalui workshop ini, Polinela menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat pendidikan vokasi berbasis industri, menghadirkan ekosistem pembelajaran yang inovatif, serta menghasilkan lulusan yang kompeten dalam penerapan teknologi produksi dan keamanan pangan sesuai kebutuhan industri nasional maupun global.





