Berita

Polinela Perkuat Kurikulum Teknologi Akuakultur Hadapi Era Smart Aquaculture dan Green Blue Economy

Polinela, Kamis (27/08/2026). Politeknik Negeri Lampung (Polinela) memperkuat kualitas pendidikan vokasi melalui pengembangan kurikulum yang adaptif terhadap perubahan teknologi, kebutuhan industri, dan dinamika dunia kerja. Upaya tersebut diwujudkan melalui Lokakarya Kurikulum Program Studi Teknologi Akuakultur bertema “Transformasi Kompetensi Lulusan Akuakultur di Era Smart Aquaculture, Digitalisasi, dan Green Blue Economy.”

Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam proses evaluasi dan penyempurnaan kurikulum Program Studi Teknologi Akuakultur agar semakin relevan dengan perkembangan sektor akuakultur nasional

Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam proses evaluasi dan penyempurnaan kurikulum Program Studi Teknologi Akuakultur agar semakin relevan dengan perkembangan sektor akuakultur nasional. Sebagai perguruan tinggi vokasi, Polinela menempatkan keterhubungan antara proses pembelajaran dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri sebagai salah satu fondasi dalam menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan memiliki daya saing.

Lokakarya diawali dengan laporan kegiatan yang disampaikan oleh Koordinator Program Studi Teknologi Akuakultur, Dr. Nur Indariyanti, S.Pi., M.Si. Dalam laporannya, disampaikan bahwa pengembangan kurikulum perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan kompetensi lulusan tetap selaras dengan perkembangan teknologi akuakultur dan kebutuhan sektor industri.

Menurutnya, transformasi industri akuakultur saat ini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produktivitas budidaya, tetapi juga mencakup pemanfaatan teknologi digital, efisiensi penggunaan sumber daya, pengelolaan lingkungan, keberlanjutan usaha, hingga kemampuan lulusan dalam beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan industri.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan sekaligus pembukaan oleh Direktur Polinela yang dalam kesempatan tersebut diwakili oleh Wakil Direktur Bidang Akademik, Didik Kuswadi, S.T.P., M.Si. Dalam arahannya, Beliau menekankan pentingnya kurikulum yang mampu menjembatani kebutuhan pembelajaran di perguruan tinggi dengan kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja.

Sebagai institusi pendidikan tinggi vokasi, Polinela terus mendorong agar penyelenggaraan pendidikan tidak berhenti pada penguasaan teori, tetapi juga memberikan pengalaman praktis dan kompetensi yang sesuai dengan perkembangan teknologi serta kebutuhan industri. Karena itu, keterlibatan praktisi dan industri dalam proses penyusunan maupun penyempurnaan kurikulum menjadi langkah strategis untuk memperkuat link and match antara pendidikan vokasi dan dunia kerja.

“Transformasi industri harus diikuti dengan transformasi kompetensi lulusan. Kurikulum harus mampu menjawab kebutuhan saat ini sekaligus mempersiapkan mahasiswa menghadapi perkembangan teknologi dan tantangan industri di masa mendatang,” demikian penekanan yang disampaikan dalam pembukaan kegiatan.

Memasuki sesi materi, lokakarya menghadirkan sejumlah praktisi dan perwakilan industri untuk memberikan perspektif mengenai kebutuhan kompetensi lulusan di lapangan. Salah satunya Waiso, S.Pi., Cht., praktisi akuakultur dan motivator dari Forum Komunikasi Praktisi Akuakultur (FKPA) Lampung.

Waiso memberikan perspektif praktis mengenai perkembangan sektor akuakultur serta kompetensi yang perlu dimiliki oleh calon tenaga profesional di bidang tersebut. Pengalaman praktisi menjadi masukan penting bagi Program Studi Teknologi Akuakultur dalam mengidentifikasi kesenjangan antara kompetensi yang diperoleh mahasiswa selama proses pembelajaran dengan kebutuhan nyata di lapangan.

Materi berikutnya disampaikan oleh Irine, S.Pt., M.Si., dari PT Central Proteina Prima Tbk (CP Prima) dan PT Central Pertiwi Bahari (CPB). Kehadiran perwakilan industri memberikan gambaran mengenai kebutuhan sumber daya manusia dalam industri akuakultur terintegrasi, termasuk tuntutan terhadap kompetensi teknis, kemampuan adaptasi, pemanfaatan teknologi, pengelolaan produksi, serta pemahaman terhadap standar dan efisiensi industri.

Sementara itu, Teguh Setyono, S.Si., Farm Manager PT Dua Putra Perkasa Pratama di Bengkulu, turut memberikan perspektif industri berdasarkan pengalaman pengelolaan usaha budidaya tambak, khususnya komoditas udang vannamei. Materi yang disampaikan memberikan gambaran mengenai kebutuhan kompetensi tenaga kerja pada level operasional dan manajerial, sekaligus tantangan yang dihadapi industri budidaya dalam menjaga produktivitas, efisiensi, kualitas, dan keberlanjutan usaha.

Di sisi lain, konsep green blue economy juga menjadi perhatian dalam pengembangan kompetensi lulusan. Mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk memiliki keterampilan teknis budidaya, tetapi juga memiliki wawasan mengenai keberlanjutan lingkungan, efisiensi sumber daya, pengelolaan limbah, serta pengembangan ekonomi berbasis sumber daya kelautan dan perikanan yang bertanggung jawab.

Setelah sesi pemaparan materi dan diskusi bersama praktisi serta industri, kegiatan dilanjutkan pada siang hari dengan rumusan tindak lanjut penyempurnaan dokumen kurikulum rekomendasi. Sesi ini melibatkan seluruh dosen di lingkungan Jurusan Perikanan dan Kelautan Polinela.

Melalui forum tersebut, berbagai masukan yang diperoleh dari praktisi dan industri selanjutnya dibahas untuk menjadi bahan penyempurnaan struktur dan substansi kurikulum. Lokakarya ini sekaligus menegaskan komitmen Polinela dalam menghadirkan pendidikan vokasi yang relevan, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan dunia kerja.