Polinela, Senin (02/11/2026). Politeknik Negeri Lampung (Polinela) terus memperluas jejaring kemitraan internasional sebagai bagian dari komitmen memperkuat kualitas pendidikan vokasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia usaha serta dunia industri (DUDI). Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan melalui audiensi bersama PT. Liugong Machinery dan Liuzhou Polytechnic University (LZPU) yang dilaksanakan secara daring melalui platform Zoom.
Kegiatan audiensi berlangsung di Ruang Rapat Direktur Polinela dan dihadiri langsung oleh Direktur Politeknik Negeri Lampung, Dr. Dwi Puji Hartono, S.Pi., M.Si., didampingi Wakil Direktur Bidang Keuangan dan Umum, Iskandar Zulkarnain, S.T., M.T.; Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan, Agung Adi Candra, S.Kh., M.Si.; serta Wakil Direktur Bidang Kerja Sama, Eko Win Kenali, S.Kom., M.Cs. Turut hadir Tim Kerja Sama, Kantor Urusan Internasional (KUI) Polinela, serta sejumlah koordinator program studi terkait.
Dari pihak Liugong Machinery, audiensi dihadiri oleh Mulyono selaku Head of Learning and Development dan Mr. Nicholas yang terlibat dalam pengembangan kerja sama pendidikan dan vokasi. Sementara itu, Liuzhou Polytechnic University diwakili oleh Mr. George. Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk membangun komunikasi dan membahas peluang kolaborasi strategis dalam pengembangan pendidikan vokasi yang terintegrasi dengan kebutuhan industri internasional.
Salah satu agenda utama yang dibahas adalah penjajakan program 1+1+1 Academic Collaboration, dengan fokus awal pada Program Studi D3 Mekanisasi Pertanian (Agricultural Mechanization). Program ini dirancang melalui skema pembelajaran selama tiga tahun, yaitu satu tahun pertama mahasiswa menempuh pendidikan di Polinela, satu tahun berikutnya melanjutkan pembelajaran di Liuzhou Polytechnic University, dan satu tahun terakhir menjalani pembelajaran serta pengalaman profesional di lingkungan industri Liugong Machinery.
Melalui skema tersebut, mahasiswa diharapkan memperoleh pengalaman pembelajaran yang terintegrasi antara pendidikan vokasi di dalam negeri, penguatan kompetensi akademik dan teknologi di perguruan tinggi mitra luar negeri, serta pengalaman praktik langsung di lingkungan industri. Setelah menyelesaikan rangkaian program, mahasiswa juga direncanakan memperoleh peluang penempatan kerja di perusahaan Liugong Machinery sesuai dengan kebutuhan dan mekanisme yang disepakati para pihak.
Dalam pembahasan awal, pihak Liugong Machinery juga menyampaikan rencana dukungan pembiayaan berupa pembiayaan penuh Uang Kuliah Tunggal (UKT) mahasiswa peserta program. Jumlah peserta yang dijajaki ditargetkan sebanyak 15 mahasiswa dengan mempertimbangkan praktik baik (best practices) pelaksanaan program serupa di perguruan tinggi lain. Skema pembiayaan, persyaratan peserta, serta mekanisme pelaksanaan selanjutnya akan dibahas lebih lanjut dalam penyusunan dokumen kerja sama.
Direktur Polinela, Dr. Dwi Puji Hartono, S.Pi., M.Si., menyambut baik peluang kolaborasi tersebut dan menekankan pentingnya perencanaan yang matang agar program dapat berjalan secara terstruktur dan memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa. Ia menyampaikan bahwa desain dan mekanisme pelaksanaan program 1+1+1 perlu dibahas lebih mendalam, khususnya terkait penyelarasan kurikulum antara Polinela dan Liuzhou Polytechnic University.
Menurutnya, penyelarasan kurikulum menjadi salah satu prioritas utama agar kompetensi yang diberikan pada setiap tahapan pembelajaran memiliki kesinambungan dan sesuai dengan standar pendidikan serta kebutuhan industri. Untuk itu, mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan dapat tetap mengikuti kurikulum yang berlaku, sedangkan penyesuaian dan penyetaraan kurikulum dipersiapkan untuk diterapkan mulai semester pertama bagi mahasiswa baru yang nantinya mengikuti program kolaborasi tersebut.
Selain penguatan kurikulum, Direktur Polinela juga menekankan pentingnya mempersiapkan sumber daya manusia, khususnya dosen, agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan program. Pelatihan bagi dosen sebagai tenaga pengajar dan operator teknologi yang dikembangkan bersama Liugong Machinery dan LZPU menjadi salah satu aspek yang perlu dipersiapkan. Dukungan sarana dan prasarana, termasuk gedung pembelajaran, peralatan praktik, serta fasilitas laboratorium, juga menjadi perhatian agar pelaksanaan program dapat memenuhi standar pembelajaran berbasis industri.
Aspek penguasaan bahasa juga menjadi perhatian penting dalam penjajakan kerja sama ini. Mengingat mahasiswa nantinya akan mengikuti proses pembelajaran di Tiongkok, Polinela memandang perlu mempersiapkan kemampuan bahasa Mandarin sebagai salah satu kompetensi pendukung. Persiapan tersebut direncanakan melalui penyediaan tutor bahasa Mandarin dan penguatan fasilitas laboratorium bahasa di lingkungan Polinela. Dengan demikian, mahasiswa memiliki kesiapan komunikasi dan adaptasi sebelum mengikuti kegiatan akademik maupun praktik industri di luar negeri.
Wakil Direktur Bidang Keuangan dan Umum, Iskandar Zulkarnain, S.T., M.T., menyoroti pentingnya perencanaan kebutuhan sarana dan prasarana sebagai bagian dari kesiapan institusi. Menurutnya, Polinela perlu memperoleh gambaran secara terperinci mengenai spesifikasi gedung, fasilitas, peralatan, dan kebutuhan pendukung lainnya yang diperlukan untuk menunjang pelaksanaan program. Hal tersebut perlu dibahas bersama Liugong Machinery agar perencanaan anggaran dan penyediaan fasilitas dapat dipersiapkan secara terukur dan tidak dilakukan secara mendadak.
Sementara itu, Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan, Agung Adi Candra, S.Kh., M.Si., menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia mahasiswa sebagai calon peserta program. Selain penguasaan kompetensi akademik dan teknis, mahasiswa juga perlu dipersiapkan dari sisi pola pikir, kedisiplinan, kemampuan beradaptasi, serta wawasan internasional. Hal ini menjadi penting agar mahasiswa mampu mengikuti lingkungan pembelajaran lintas negara dan memenuhi ekspektasi dunia industri global.
Wakil Direktur Bidang Kerja Sama, Eko Win Kenali, S.Kom., M.Cs., menyampaikan bahwa program 1+1+1 dengan fokus Program Studi D3 Mekanisasi Pertanian menjadi salah satu prioritas penjajakan kerja sama. Selain itu, peluang kolaborasi dengan Program Studi Teknologi Rekayasa Otomotif (TRO) juga dapat dikembangkan melalui berbagai bentuk kegiatan akademik, seperti kuliah tamu (guest lecture), pertukaran pengetahuan, dan penguatan kompetensi sesuai bidang keilmuan masing-masing.
Sebagai tindak lanjut audiensi, para pihak merencanakan pembentukan grup komunikasi WhatsApp untuk mempermudah koordinasi dan pembahasan lebih lanjut mengenai substansi draf dokumen kerja sama. Proses fasilitasi dan penelaahan dokumen kerja sama direncanakan dilakukan melalui Liugong Machinery. Pembahasan selanjutnya akan difokuskan pada penyusunan desain program 1+1+1, penyelarasan kurikulum, persyaratan mahasiswa, kebutuhan tenaga pengajar, serta kesiapan fasilitas pendukung.
Polinela juga akan mempersiapkan strategi sosialisasi dan promosi program sebagai bagian dari upaya menjaring calon mahasiswa baru yang memiliki minat, kesiapan akademik, dan kompetensi sesuai kebutuhan kolaborasi internasional tersebut. Apabila dapat ditindaklanjuti sesuai target pelaksanaan pada 2026, program ini berpotensi menjadi salah satu penguatan daya tarik pendidikan vokasi Polinela melalui model pembelajaran internasional yang terhubung langsung dengan dunia industri.
Melalui penjajakan kerja sama ini, Polinela menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan pendidikan vokasi yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan keterampilan di lingkungan kampus, tetapi juga memberikan pengalaman belajar lintas negara dan keterhubungan langsung dengan kebutuhan industri. Kolaborasi bersama Liugong Machinery dan Liuzhou Polytechnic University diharapkan dapat menjadi langkah strategis dalam menciptakan lulusan yang kompeten, profesional, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta memiliki daya saing di tingkat internasional.





